Sadarilah, Jikalau Ternyata Ada Perilaku Bung Yang Tak Layak Diterima Si Nona

Posted by Ganas003 on 21.08 in ,

Memang sih intinya dilakukan dengan alasan cinta, tetapi tidak begitu juga Bung. Karena jika dipikir-pikir ternyata perilaku yang Bung lakukan dengan berasaskan cinta, sejatinya belum tentu layak diterima si nona. Cinta memang hampir sama dengan politik, jika dilihat dari sisi pretensiusnya, sama-sama soal kekuasaan. Satu pihak ingin mengusai jabatan, sedangkan yang lainnya lagi hendak mengusai perasaan semoga tidak lepas.


Tetapi jika dipikir-pikir lagi Bung, apa yang Bung lakukan pada si nona dengan beralibi cinta terkadang tidak layak diterima si nona lho. Coba Bung pikir-pikir kembali sembari menyeruput kopi. Kalau saja Bung di posisi si nona dan Bung mendapat perlakuan mirip itu, niscaya Bung bakal merasa risih atau terkekang. Jika Bung kerap melaksanakan hal mirip itu, mungkin sanggup saja menciptakan si nona kolam menyimpan bom waktu. Tinggal tunggu waktu di mana beliau merasa muakm dan si nona pun bakal meluapkan kemarahannnya. Makara coba Bung pikirkan, apakah yang dilakukan laki-laki selalu baik terhadap perempuan, atau hanya menguntungkan sisi laki-laki saja?


Harus Melapor 1×24 Jam Bak Tamu Baru Di Sebuah Lingkungan


Memang sih intinya dilakukan dengan alasan cinta Sadarilah, Kalau Ternyata Ada Sikap Bung yang Tak Layak Diterima Si Nona


Memang masuk akal kok, jika Bung ingin selalu mendapat kabar dari si nona. Lagi apa, di mana,dan sama siapa. Hal itu sanggup jadi pembuktian jika Bung ingin mengetahui keberadaan nona. Mungkin si nona juga bahagia jika ternyata Bung sebagai pasangan begitu ingin tahu dan tidak cuek. Sampai disini semuanya memang masih terasa baik-baik saja.


Tetapi jika dipikir-pikir lagi, Bung sama saja mirip mengekang si nona lho. Secara tidak eksklusif Bung selalu menuntut nona untuk lapor kapan pun dan di mana pun, mirip tamu gres di sebuah lingkungan atau lebih pahitnya, mirip tahanan di sebuah rumah tahanan. Bisa saja Bung bakal murka ketika si nona tak memberi kabar ketika beliau sedang hang out bersama sahabatnya. Kalau posisi ini dibalik, apakah Bung siap menjadi tahanan? Maaf, maksudnya siap menjadi pasangan?


Giliran Bung Ditanyakan Kabar, Langsung Bubar


Memang sih intinya dilakukan dengan alasan cinta Sadarilah, Kalau Ternyata Ada Sikap Bung yang Tak Layak Diterima Si Nona


Seketika ketika Bung ditanyakan soal kabar, Bung eksklusif merasa gusar. Bahkan ketika ditanya lagi di mana, Bung selalu membalas dalam jangka waktu yang lama. Apakah itu adil? Jelas tidak! Bung secara tidak eksklusif telah menguasai hubungan, sehingga Bung sanggup bertindak semau dan sesuka Bung. Jelas saja hal itu bakal merugikan pihak perempuan, apalagi ihwal berkabar Bung selalu menunda-menunda, apakah itu membuktikan jika si nona tidak layak untuk didahulukan?


Kalau Ada Lawan Jenis yang Mengajaknya Berbicara, Bung Seketika Naik Pitam


Memang sih intinya dilakukan dengan alasan cinta Sadarilah, Kalau Ternyata Ada Sikap Bung yang Tak Layak Diterima Si Nona


Menjaga sih boleh, tapi tidak hingga sebegitunya juga Bung. Kalau Bung melarang si nona untuk berkomunikasi dengan laki-laki selain Bung, itu sudah barang tentu menjadi keanehan. Si nona sudah niscaya mempunyai sahabat pria, yang mana hanya sekedar sahabat saja.


Tentu si nona pada beberapa waktu ingin bertemu, sekedar untuk melepas rindu dan menjaga silaturahmi dengan temannya. Tapi Bung selalu membatasi ruang pertemanannya, alasannya merasa cemburu atau merasa korelasi jadi tidak kondusif jika si nona terus menjalin pertemanan dengan laki-laki lain. Bahkan tidak hanya dengan sahabat laki-lakinya, dengan sahabat perempuannya pun Bung juga membatasi pertemanannya. Bersikaplah dewasa, alasannya yang namanya menjaga kesepakatan diusia yang tak lagi remaja, seharusnya tidak ada lagi tipe cemburu semacam ini.


Secara Tidak Langsung Bung Merasa Menjadi Korban Dalam Hubungan. Bung ini Laki-laki atau Perempuan?


Memang sih intinya dilakukan dengan alasan cinta Sadarilah, Kalau Ternyata Ada Sikap Bung yang Tak Layak Diterima Si Nona


Mungkin ini Bung jadikan seni administrasi dalam berhubungan, ketika ada pertengkaran, Bung selalu merasa mirip korban. Contoh kecilnya saja ketika Bung telat menjemputnya untuk kencan, Bung malah menyalahkan si nona alasannya usang berdandan. Padahal Bung sendiri juga telat jalan. Apakah Bung sadar jika Bung selalu berusaha mendeklarasikan diri sebagai korban didalam hubungan? Padahal si nona juga belum tentu salah atau malah tak salah. Bukankah itu jahat?


Ketika Ruang Berekspresi Dibatasi Karena Takut Menjalin Si Nona Hubungan Rahasia Secara Pribadi


Memang sih intinya dilakukan dengan alasan cinta Sadarilah, Kalau Ternyata Ada Sikap Bung yang Tak Layak Diterima Si Nona


Potensi menduakan disetiap korelasi niscaya ada. Tergantung siapa yang ingin menjalankan ataupun tergoda. Memang alasan ini cukup masuk hingga Bung berupaya untuk mengetahui semua akun sosial medianya, semoga Bung sanggup leluasa memantaunya. Apakah ada yang mencurigakan dari dirinya, atau adakah orang lain yang ingin merusak korelasi yang sudah dijalin sekian lama.


Mungkin Bung merasa wajar-wajar saja ketika melakukannya, namun hal itu sejatinya norak Bung! Mungkin dalam beberapa waktu si nona malah malas bersosial media alasannya merasa ruang berekspresinya dibatasi. Kalau sudah begini, sanggup saja si nona menciptakan akun satu lagi. Lagi pula, buat apa Bung menjaga akun sosial medianya? Memangnya bung polisi sosial media? Biarlah si nona berekspresi, jika si nona menduakan berarti beliau bukan orang yang cocok untuk berkomitmen dengan ampuh. Praktis kan Bung?