Menikahlah Di Waktu Yang Tepat, Bukan Alasannya Desakan Yang Semakin Merapat

Posted by Ganas003 on 21.08 in ,

Beberapa bulan lagi mau puasa, niscaya lebaran juga bakal terbayangkan bukan? Masih ingatkah Bung tahun lalu, ketika momen maaf-maafan menjadi semacam konferensi pers soal pernikahan? Segala macam penjelasan dan pertanyaan soal berdiri di pelaminan menjadi hal menarik bagi kerabat dan sudara. Tak usah heran, hal itu memang terjadi secara turun-temurun, ada saja desakan yang dialami seseorang ketika umurnya telah semakin matang untuk berumah tangga.


Apalagi laki-laki, mulai dari kerabat hingga sodara niscaya mengawali dengan, “Tunggu apa lagi?”, atau “Mau cara yang kayak gimana lagi?”, pertanyaan menyerupai itu sudah niscaya mengawali desakan pernikahan. Tapi untuk menikah jangan hingga terpancing alasannya ialah desakan. Tetapi pikirkan secara masak-masak? Apakah ketika ini, Bung memang sudah ready untuk membangun rumah tangga secara nafkah dan juga batin? Jangan hingga mengeluh rindu bujang ketika buah hati sudah berada di kedua tangan ya Bung!


Jangan Karena Ibu Ingin Gendong Momongan, Bung Langsung Kelabakan Untuk Melangkah Ke Pelaminan


 niscaya lebaran juga bakal terbayangkan bukan Menikahlah Di Waktu yang Tepat, Bukan Karena Desakan yang Semakin Merapat


Salah satu desakan untuk menikah yang paling ngena di hati Bung mungkin “kode” orangtua yang ingin mempunyai cucu. Lantaran orangtua terlucuti hatinya ketika reuni SMA, atau berkumpul bareng rekan-rekannya yang bercerita betapa lucu cucunya. Alhasil, mereka pun pribadi bertanya, “Kapan ingin segera berumah tangga?”. Sampai pada alhasil Bung kelabakan untuk segera melenggang ke pernikahan. Tapi bila mental belum siap, Bung jangan menuruti, daripada ijab kabul Bung nanti hanya jadi saksi kegagalan alasannya ialah munculnya obsesi.


Hidup Bakal Tetap Berjalan Meskipun Ujung Pelaminan Belum Kelihatan


 niscaya lebaran juga bakal terbayangkan bukan Menikahlah Di Waktu yang Tepat, Bukan Karena Desakan yang Semakin Merapat


Rasanya menatap pelaminan belum ada dibayangan, karena masih ada harapan yang ingin diwujudkan atau lagi nabung kecil-kecilan alasannya ialah ingin berusaha meringankan beban orangtua pada ketika pernikahan. Tak apa Bung usang menjadi bujang, asalkan mempunyai sasaran kapan harus menikah.


Jangan hingga ketagihan menjadi bujang hingga menikah pun tidak masuk jadwal dalam kehidupan. Ketika saudara, sahabat ibumu bahkan rekanmu terus bertanya kapan menikah, tanggapi santai saja. Bilang saja lihat nanti, jadi beliau tidak akan bertanya lagi. Kalau masih bertanya, mungkin beliau memang membuka jasa wedding organizer atau semacamnya.


Apalagi Mencari Calon Istri Mesti Teliti, Jangan Sampai Salah Menikahi


 niscaya lebaran juga bakal terbayangkan bukan Menikahlah Di Waktu yang Tepat, Bukan Karena Desakan yang Semakin Merapat

Sumber : Medium.com


Tidak semua orang cocok untuk menjadi pasangan, dapat saja hanya pantas sebagai teman, tidak lebih. Maka dari itu untuk menentukan pasangan memang harus secara teliti dan matang. Kalau kata orangtua zaman dulu, mesti dilihat bibit, bebet, dan bobotnya. Jangan hingga alasannya ialah tidak tahan mengalami desakan, menyebabkan siapa saja yang tiba pribadi Bung sambar dengan mengajak ke pelaminan.


Bayangkan, Bung bakal terus bersama si nona, sehidup semati hingga maut memisahkan. Otomatis ketika mata terbuka di pagi hari, wajahnya yang bakal Bung lihat pertama kali. Bayangkan bila sikapnya sangat bertolak belakang, apakah Bung siap menghadapinya di setiap saat?


Bagi Laki-laki Kesiapan itu Harus, Karena Apabila Rumah Tangga Jadi, Bunglah yang Bakal Membawa Arus


 niscaya lebaran juga bakal terbayangkan bukan Menikahlah Di Waktu yang Tepat, Bukan Karena Desakan yang Semakin Merapat


Semua harus dipersiapkan jangan hanya modal nekat dan cinta saja. Karena sebagai laki-laki, kematangan finansial dan mental tak dapat diacuhkan untuk menghadapi pernikahan. Jangan hanya terbayang “ena-ena” saja, alasannya ialah inti ijab kabul bukan soal menyerupai itu. Kesiapan finansial apalagi, menjadi salah satu pangkal kehidupan yang paling penting. Bahkan tanpa uang, hidup zaman kini dapat apa, besar atau pun kecil nominalnya pada dasarnya tetap saja uang bukan? Kalau mental itu relatif, mungkin Bung yang sudah ditempa dengan segala macam cobaan dapat menjadi lebih dewasa.


Menunda Pernikahan Bukan Berarti Bung Adalah Laki-laki yang Terpinggirkan


 niscaya lebaran juga bakal terbayangkan bukan Menikahlah Di Waktu yang Tepat, Bukan Karena Desakan yang Semakin Merapat


Santai saja Bung! Ketika umur ideal ijab kabul malah digunakan asyik berkelana sendirian, bukan berarti Bung ialah pria yang terpinggirkan. Pernikahan ialah sesuatu yang sakral, jangan hingga menciptakan Bung melakukannya hanya alasannya ialah desakan. Wahai Bung yang membaca goresan pena ini, desakan hanyalah suatu sentilan yang tak perlu dimasukkan ke dalam hati. Santai sajalah dalam menyikapi, alasannya ialah urusan jodoh masih di tangan Tuhan, bukan lewat dialog rumpi yang selalu dilakukan saudara atau kerabat Bung sekalian.