Menjadi Sampaumur Memang Tak Lagi Menyenangkan, Alasannya Ialah Makin Tahu Mana Impian Dan Kenyataan

Posted by Ganas003 on 21.08 in

Bukan ingin merasa diri paling tahu, tapi bung mungkin juga mencicipi hal yang sama. Jika semakin cukup umur kita, sebanyak banyak saja hal sulit yang kian terasa. Terutama dalam urusan karir, asmara, sampai pada kasus pemikiran yang dituntut harus lebih bijaksana.


Ya, benar memang bung. Hidup menjadi pria cukup umur memanglah tak mudah. Bahkan meski para motivator di tv kerap berbicara banyak untuk diam-diam hidup mudah, nyatanya semua itu tak semudah kelihatannya. Berbagai macam kasus yang ada pun kerap jadi pelajaran, bahwa hidup konkret tak semudah yang dulu pernah kita bayangkan.


Waktu Kecil Merangkai Masa Depan Bagaikan Mainan, Tapi Nyatanya yang Terjadi Kadang Jauh Dari Harapan


 tapi bung mungkin juga mencicipi hal yang sama Menjadi Dewasa Memang Tak Lagi Menyenangkan, Karena Makin Tahu Mana Harapan Dan Kenyataan


Bung masih ingat ketika Taman Kanak-kanak atau SD pada ketika ditanya seorang guru mau jadi apa ketika besar nanti? bung niscaya mengambil balasan standar menyerupai Dokter, Astronot, dan Tentara. Kenyataanya ketika dewasa, bung hanya menjadi karyawan yang biasa saja, yang tak sabar menunggu selesai pekan di setiap minggu. Ironis? gambarannya merancang impian tidak semudah yang dibayangkan.


Apalagi dalam soal asmara dan keuangan. Ketika remaja menjalani cinta monyet saja sudah sebegitu serunya. Walaupun terkadang hiperbola dalam menyikapi permasalahannya, sudah menyerupai prahara di rumah tangga. Untuk keuangan, masih santai sebab ada orang renta yang masih bertanggung jawab. Mungkin sepenggal lirik “waktu ku kecil. Hidupku amatlah senang” terlintas sesaat di kepala. Karena menjadi cukup umur tidak mudah.


Berapa Banyak Uang yang Bung Miliki? Katanya Di Umur 27 Ingin Mandiri


 tapi bung mungkin juga mencicipi hal yang sama Menjadi Dewasa Memang Tak Lagi Menyenangkan, Karena Makin Tahu Mana Harapan Dan Kenyataan


Ketika melepas toga, mendapatkan ijazah atau bahkan lulus SMA. Sudah memiliki sasaran tinggi untuk bekerja merupakan pencapaian yang bagus. Karena banyak  yang masih ingin berleha-leha menikmati masa indah ketika lulus kuliah, seraya berpesta dikarenakan telah melewati ganasnya skripsi. Padahal hidup sehabis skripsi lebih angker dari pada yang dikira.


Alasan untuk bekerja lebih cepat ialah ingin hidup yang berdikari secara finansial. Tidak lagi merepotkan orang tua, dengan meminta uang bulanan dan membalas jasanya walaupun tak ternilai. Tapi ketika telah bekerja,  rutinitas dan gajinya kadang tidak sama. Bahkan, untuk menyisihkan ke orang renta saja jumlahnya masih kurang, tapi bung tetap memaksakan. Alhasil, ketika selesai bulan masih menadah tangan untuk meminta meskipun sekedar uang jajan atau ongkos jalan.


Entah Mana yang Harus Diprioritaskan Antara Mencari Pasangan Atau Pekerjaan


 tapi bung mungkin juga mencicipi hal yang sama Menjadi Dewasa Memang Tak Lagi Menyenangkan, Karena Makin Tahu Mana Harapan Dan Kenyataan


Mencari pasangan ketika sudah beranjak cukup umur di umur 25-an atau pun lebih, sangat berbeda ketika masa Sekolah Menengan Atas atau kuliah. Umur yang sebenarnya memang belum terlalu renta untuk mencari, jikalau pun ada yang sehati paling rentan umur sanggup lebih jauh lebih muda. Karena perempuan yang seumuran niscaya targetnya eksklusif pelaminan tanpa berlama-lama menghabiskan waktu kencan.


Tapi bung tak sanggup menyerupai itu. Mengenali pasangan luar dalam dengan tau latar belakang keluarga, sudah menjadi bobot utama ketika dewasa. Tak mau salah pilih pasangan menciptakan bung lebih lihai dan cerdik dalam berkenalan. Alhasil bung mencari yang lebih muda, bukan sebab sanggup dibohongi menyerupai kata mereka. Tapi hanya ingin memastikan akrab dan kenal dengan waktu yang cukup lama. Kalau pun ada yang sebaya, paling juga sobat lama.


Bermimpi Memiliki Hidup yang Ideal, Seringnya Ini Hanya Makara Mimpi yang Bebal


 tapi bung mungkin juga mencicipi hal yang sama Menjadi Dewasa Memang Tak Lagi Menyenangkan, Karena Makin Tahu Mana Harapan Dan Kenyataan


Menjalani hidup ideal dengan menargetkan sanggup membeli rumah, memiliki investasi dan mempersiapkan tabungan untuk menikah. Kalau diurutkan memang mudah. Dicatat di satu buku catatan yang berjudul “menata masa depan”. Bung, hal menyerupai itu tak selamanya berhasil. Karena menjalani hidup yang ideal hanyalah fana.


Segala hal dalam kehidupan berjalan serba cepat dan dinamis, segala kebutuhan dan keinginan akan terus berganti secara cepat. Mungkin saja di 5 atau 10 tahun lagi, membeli rumah sudah tidak sanggup lagi digapai orang umum, terutama di kawasan ibu kota. Hanya akan ada apartemen yang sanggup dibeli. Kehidupan ideal ternyata tidak sesusai dengan catatan masa depan yang sudah usang.


Bahkan Banyak Hal yang Diimpikan Hanya Makara Sebuah Ungkapan


 tapi bung mungkin juga mencicipi hal yang sama Menjadi Dewasa Memang Tak Lagi Menyenangkan, Karena Makin Tahu Mana Harapan Dan Kenyataan


Ini merupakan hal yang paling tidak mengenakkan. Di mana sesuatu hal yang kita mimpi-mimpikan tidak sesuai dengan kenyataan. Seperti salah satu adegan di film romantika 500 Days Of Summer, di mana ada dua sisi yang diperlihatkan antara ekspetasi dan realita. Untuk mendapatkan suatu kenyataan hanyalah dengan kedewasaan, sebab tidak sanggup ditangani dengan cara apa pun.


Seperti ingin menikah di umur 26 biar ketika anak sudah dewasa, umur orang renta tidak jauh jaraknya. Namun bagaimana mau menikah? jodoh pun tak kelihatan di pelupuk mata. Ingin membelikan orang renta sesuatu tapi tidak sanggup dicapai sebab kebutuhan semakin menggunung.


Berharap sudah menjadi karyawan tetap di umur 27, tapi di umur 26 saja sudah 4 kali ganti pekerjaan. Bung menjadi cukup umur memang tak seusai ekspetasi, yang penting tetaplah bermimpi dan jangan menyerah, sebab menggapai mimpi lebih mulia dari pada pria yang patah arah.